Bagaimana pren sadayana, boleh engga judul tayanganku ini?
Meskipun bahasa
Indonesiaku di rapor dulu dapat enam :-) tetapi kalau ada waktu maupun
dapat
inspirasi di dalam menulis, saya suka membuat kalimat-kalimatku
bersajak.
Mungkin pujangga seperti Pramoedya akan berkata bahwa itu sajak orang
lagi
berak :-) tapi mumpung Bang Lintang penyair P-Net sedang teler, boleh
juga
Bang Jeha menjadi penyair di dalam prosanya :-). Seperti kutulis di
dalam
salah satu tayanganku kemarin ini, saya sama sekali belum atau tidak
mengarang selama di kempingan ke Killarney tetapi lebih banyak melamun
dan
merenung terutama mengenang hari jadiku sekitar 52 tahun lalu (sekalian
menjawab pertanyaan bila masih ada, saya berumur berapa). Renungan
pertama
yang masih kuingat adalah mengenai cuaca atau tepatnya ramalan cuaca.
Berhari-hari sebelum hari-H saya sudah mulai mencari informasi
atau ramalan
cuaca keadaan di daerah Killarney. Yang menjadi masalah adalah, kota
besar
terdekat yang masuk di dalam peta ramalan cuaca, Sudbury, letaknya jauh
sekali, sekitar 200 km dari Killarney. Kota lain yang lebih dekat,
Espanola,
terlalu kecil sehingga tidak dimasukkan ke dalam kota yang info
cuacanya ada
dimana-mana, di Website atau di koran. Akibatnya saya hanya dapat
menduga-duga
akan seperti apa suhu maupun ramalan cuaca Killarney dan beritanya
tidak
menggembirakan. Baik Sudbury maupun Parry Sound akan tidak cerah
cuacanya.
Hal ini dikonfirmasikan ketika saya dan Cecilia tiba di kantor cagar
alam
Killarney di hari Kamis sore tgl 10 Juni lalu. Ramalan hujan hari
Jum'atnya
40%, Sabtu 60 dan Minggu 80%. Tidak heran bahwa kemudian kami mengalami
atau
melihat cukup banyak campsite yang kosong, padahal waktu Silvana
melakukan
booking beberapa bulan yang lalu, semua campsite di seluruh musim panas
sudah
habis, laku dipesan dengan kekecualian di akhir pekan 12 Juni.
Itulah yang kurenungkan di muka api unggun di campsite,
setelah puas mendayung
sekeliling George Lake berdua dengan Cecilia saja. Mong-ngomong api
unggun,
jaman dahulu kala waktu saya belum membeli gergaji portable yang serba
ringan
dan ringkas, kayu untuk api unggun di campground, kami beli. Satu kotak
kecil
berukuran satu 'cord' harganya 6 $ bila jenis hardwood (baca Renungan
Api
Unggun di hompejku bila ingin mengetahui apa itu 'hardwood'). Kalau
kita mulai
memasang api di awal petang, satu cord tidak akan cukup semalaman. Jadi
harus
bermodal sekitar $ 12. Sekarang, kalau saya dan Cecilia kemping,
meskipun
tidak masuk ke interior atau ke dalam hutan, kami mencari kayu atau
pohon mati
dan kami gergaji atau boyong, terkadang pakai canoe, ke campsite.
Akibatnya
kata anak Betawi, 'pulang ponci' atau impas antara ongkos campsite dan
kayu
bakar yang gratisan. Kalau kebetulan kayunya banyak yang kami peroleh
dan
bakar, terkadang kayu pinus yang asyik sekhalei dijadikan kayu bakar,
malah
kami jadi untung kemping cara begini :-).
Kembali ke ramalan cuaca, meski langit kelihatan berawan,
sampai dengan kami
akan beradu, eh tidur :-), hujan tidak jadi datang. Itulah bedanya
kemping
dengan iman, masa bodoh akan hujan atau tidak hujan, berapapun
probabilitas
hujan, kita tetap pergi dan tetap akan masuk ke interior. Iman yang
diamini
seperti ini memang membuahkan hasil, terbukti dengan asyiknya cuaca
sepanjang
kemping dan matahari hampir selalu bersinar, kekecualian hanyalah pada
saat
pulang di route terakhir dari Killarney Lake menuju Freedom Lake.
"Mas, kenapa Anda gila kemping seperti ini?," tanya beberapa
anak baru masuk
di Paroki-Net dan belum pernah membaca Pengalaman Canoe Camping-ku
ataupun
serial Renungan Api Unggun. Jawabannya sebetulnya panjang lebar sebab
hobi
ini sudah saya mulai sejak masih kanak-kanak, dari mulai seringnya
bersepeda
bersama ayah saya, mancing kepiting, kemudian kemping bersama
teman-teman
semasa remaja. Satu hal yang langsung terbersit adalah, saya menjumpai
banyak
sahabat sejati lewat kempingan. Meskipun baru kenal, kog orang-orang
yang
hobinya sama seperti ini, lekas sekali menjadi akrab dan sesudah
(sering)
mengobrol panjang lebar, kami menemui banyak kesamaan di dalam filsafat
hidup,
baik doi ber-KTP alias ada agamanya, maupun 'viking' atau mungkin
komunis :-). Hal lainnya yang membuat saya sering merenung dan melamun
adalah kesempatan
untuk hidup secara "miskin", sengaja kupakai tanda kutip sebab istilah
itu
sedang menjadi sesuatu yang kompleks :-), trims kepada beberapa warga
P-Net
ini yang mendiskusikan soal kemiskinan Yesus. Seperti pernah kusyer,
beberapa
temanku anak kota, sudah tidak mungkin lagi pergi kemping dan hidup
nikmat
seperti yang kami alami :-). Bagi mereka, itu adalah hidup mencari
susah,
jauh dari kenyamanan hidup modern. Mau minum tinggal buka kran, mau
makan
tinggal buka lemari es dan masukkan makanan di microwave. Mau ke WC
tinggal
buka pintu dan duduk :-). Yang terakhir ini, bayangkan kalau Anda mesti
gali-gali
dulu sambil mencari tempat yang strategis padahal sudah kebelet :-).
Belum lagi urusan tidur atau peraduan. Ya memang jaman sekarang saya
kemping
di tengah "kemewahan", tenda 3 season waterproof windproof, sleeping
bag
rating-nya bisa dipakai untuk tidur di suhu minus, alas memakai
Thermarest.
Kubandingkan dengan jaman kere, ambil contohnya ketika aku tidur atau
bermalam
di kawah Gunung Salak. Bau belerang semerbak seperti bau duren busuk
:-),
alas plastik dan batu-batu kerikil menghunjam tubuh. Sleeping bag
hanyalah
sehelai sarung pelekat. Tenda adalah ciptaan-Nya alias tidur di bawah
atap
langit doang yang kalau kita mujur berbintang-bintang. Nah,
mengenangkan
semuanya itu, lamunanku teriring dengan senyuman karena sekarang daku
dapat
menikmati kemping gaya mewah alias kemping "orang kaya" :-).
Merenungkan hal-hal
indah sebelum tidur, ketika saya masih sering kemping di tanah air,
adalah
suatu resep yang jitu untuk lekas melaju ke "pulau Thermarest" alias
beristirahat. Sampai renungan berikutnya, salam dari Killarney lewat
Toronto.
Waktu saya dan Cecilia pertama kali kemping ke Killarney, kami
belum berkanu
tetapi melakukan apa yang namanya 'hiking camping' yakni seluruh barang
bawaan kami panggul di dalam ransel dan masuk ke dalam hutan atau
'interior'
istilahnya. Pada suatu ketika, tidak jauh dari campsite kami, ketika
sedang
melamun di tepi sebuah danau kami melihat satu pasutri berkanu
mendarat. Lalu
kami mengobrol dengan mereka dan ternyata mereka dari Amrik serta
setiap
tahun berusaha ke Killarney. "It is so beautiful here," katanya. Kami
hanya
mengangguk dan menganggap memang pemandangan bukit-bukit cadas yang
serba
putih di Killarney, sesuatu yang indah. Tidak kami sangka bahwa yang
mereka
maksud indah adalah danaunya yang tidak mungkin dapat kita nikmati
kalau
kita tidak berkanu masuk ke 'interior' karena kita tidak akan dapat
melihat
kedua danau Killarney dan OSA yang indah rupawan memukau. Sudah cukup
banyak
keindahan alam termasuk keindahan danau di manca negara yang pernah
saya
nikmati, jadi kalau saya katakan Killarney indah danau-danaunya,
seharusnya
Anda percaya dan ini bukan wangsit Bang Jeha :-).
Nah, dilatar-belakangi dengan keindahan ciptaan-Nya seperti
itu, mana kita
bisa tahan untuk tidak melamun dan merenung :-). Tiga kanu dengan
penumpang
6 anak dewasa dan 2 anak kecil, berangkat dari George Lake menuju OSA
Lake,
tujuan kami bermalam hari itu. Akan ada 2 danau lain yang perlu kami
lalui,
Freedom Lake dan kemudian Killarney Lake, total portaging hanya 3 kali
dan
cuma sekitar 700 meter total. Bila hanya saya dan Cecilia, jarak sejauh
itu
masih mungkin kami tempuh berdua saja dan bila kami kemping di musim
panas,
risiko terkena musibah dan tidak berjumpa dengan manusia lainnya cukup
kecil.
Namun, teman berkanu atau kanu lainnya merupakan faktor yang penting
bila
kami hendak masuk jauh ke interior, beberapa hari berkanu dari tempat
parkir.
Bukan saja kami dapat saling bantu-membantu bila menghadapi kesusahan,
kami
juga akan dapat lebih menikmati kegembiraan yang kami alami. Seseorang
warga
Net ini bertanya kepadaku per japri, apa tujuan atau gunanya orang
menikah.
Agar tidak perlu berkanu sendirian dan dapat menempuh jarak yang jauh
:-).
Tentu tidak demikian jawabanku kepadanya sebab ia serius dalam
bertanya.
Di jam makan siang sebelum saya berangkat kemping, satu dua
kolegaku di kantor
yang sudah menikah tetapi tidak ingin mempunyai anak, mengemukakan
alasan
mereka dan juga membenarkan keputusan mereka dengan menyitir
"statistik" dari
kawan-kawan mereka yang berpendapat serupa. Saya sama sekali tidak
berkomentar
sebab sedang tidak semangat berkotbah, namun tentu di dalam hati saya
mengambil kesimpulan atau berpendapat. Mereka adalah generasi 'me
first' dan
tidak mungkin mereka dapat mengenyam hikmah dari keluarga yang
mempunyai anak.
Engga bakal nyampe, kata anak Betawi. Namun, karena saya juga
berkecimpung di
dalam suatu paguyuban dimana para ortu terkadang menyesali nasib
mengapa
sampai "dikaruniai" anak, saya dapat mengerti titik-tolak pandangan
mereka.
Itulah awal renungan saya di hari kedua kami kemping, mengenai teman
dan
persahabatan, mengenai keluarga dan interaksinya.
Anak-anak yang rajin di dalam kemping, membuat suasana kemping
menjadi lebih
nyaman. Mereka yang mempunyai sikap 'me first' terkadang menciptakan
ketidak-bahagiaan
di paguyuban kempingan. Pagi hari Jum'at itu saya mendapat giliran
menyiapkan makanan pagi dan malamnya Cecilia. Sebetulnya bubur ayam
yang saya
buat di pagi hari, bahan-bahannya sudah disiapkan juga oleh nyonyaku,
tinggal
mengolahnya. Karena terlalu banyaknya nasi (sisa :-)) yang kupakai,
buburnya
menjadi kurang sedap dan 'quality control person' yang kuajak
menggerutu
terus :-). Untunglah para peserta kemping lainnya mirip dengan
anak-anak P-Net
yang suka memuji orang :-), sehingga akhirnya habis juga bubur setengah
panci
itu sebab uenak katanya. Soal menyiapkan makanan ini membuat saya
melamun
lagi mengingat beberapa temanku dari kantor yang canoe camping
ceritanya di
musim panas tahun lalu. Kebetulan acara mereka bentrok dengan acaraku
sehingga
saya tidak sempat ikut. Namun, menarik sekali mengetahui apa yang
mereka
lakukan di dalam rangka persiapan makanan. Mereka berbelanja bersama!
Mereka
setuju agar tidak ada 'surprise' dalam hal makanan yang akan disiapkan
dan
akan oke di perut semua peserta. Juga mereka tidak membagi-bagi tugas
giliran
siapa memasak/menyiapkan di jam makan yang mana di hari keberapa.
Mereka
membeli makanan 'generic' seperti cereal untuk makan pagi, roti untuk
makan
siang dan hamburger untuk di-barbeque buat makan malam. Lain padang
lain
belalang, lain lubuk lain ikannya, lain paguyuban lain kebiasaan.
Karena kami berdua masih mempunyai tugas untuk menyiapkan
hidangan malam,
disamping kami ingin mendapat campsite yang terbaik di OSA Lake, maka
kemarin
daku dan Cecilia mendayung kanu kami lebih dahulu, meninggalkan yang
lain-lainnya
di suatu pulau sehabis berenang-ria seusai makan siang dan sempat
bersiesta :-). Itulah caranya agar terus segar meski mendayung
berjam-jam.
Habis makan siang, istirahat sebentar, melamun dan kemudian memejamkan
mata.
J. katanya ingin mengikuti resepku ini dan ia berhasil juga sehingga ia
pun
tetap bugar sampai malam hari. Tidak terlalu sukar mencari letak pulau
itu
dan lagipula ombak relatif tenang sehingga tidak sukar untuk
mengemudikan
kanu. Di canoe camping kali ini, si bos yang biasanya duduk di buritan
alias
mengemudi, sekarang lebih suka duduk di haluan dan sayalah yang terus
menerus
mempraktekkan 'J stroke'-ku, terkadang 'C stroke'. Memang tidak
membosankan
sebetulnya menjadi pengemudi karena kita harus waspada terus, apalagi
kalau yang duduk di depan bos, alamat "tanggal gajian kita bisa tidak
dibayar". :-)
Menu makan malam kemarin merupakan sesuatu yang baru, kreasi
isteriku, yakni
pepesan telur asin dan gudeg a la Toronto yang lain dari yang lain
tetapi
tetap uenak sekhalei. Tugas memasak makanan pagi diberikan kepada T.
yang pada saat kemping tahun lalu berhasil menyajikan bakmi goreng
'masterpiece' sebab dimasaknya pake bumbu gosip :-). Karena sekarang ia
sudah tidak di dalam 'gossip circle' di kota Toronto yang sebetulnya
kalah jauh mutu gosipnya dibandingkan kota Pengkupernya Wan Nawi, jelas
tiada bumbu gosip yang dapat ditambahkan ke mie goreng di pagi hari itu
sehingga sedikit cemplang rasanya. :-)
Dibekali dengan mie yang kira-kira semutu dengan bakmi tektek
di Betawi, kami bersiap-siap untuk pindah ke Danau Killarney menjelang
siang. Saking
lamanya keluarga T. setiap kali kemping untuk membereskan tenda dan
perlengkapan, maklum bosnya tiga dan pegawainya hanya sendiri :-),
sedikitnya
2 jam untuk sang pegawai mengepak seluruh perlengkapan, puteri duyung
P-Net
kita tidak sabar dan ditemani isteriku pergi ke 'diving platform' di
seberang
danau di kaki bukit cadas. Ketika J. teman berkanuku di pagi itu
melihat dari
jauh, ia berkata, "Did you see what I see?" "What did you see?" "I
think they
are skinny dipping." Masya-malaikat, memang dari jauh kelihatan dua
sosok
anak berumur puluhan tahun di dalam pakaian Hawa-nya alias 'au naturel'
:-).
Nyonyaku yang baru sekali ini berenang atau terjun bugil di alam luas,
hanya
ditonton oleh kedua anak T. dan A., cengar-cengir ketika melihat kami
mendekat. "Did you use the binocular?," tanyanya curiga. "What for,
there is nothing special," jawabku. :-)
Ya itulah pren sadayana, lamunanku dimulai di hari itu
mengenai mengapa kita
jengah atau enggan untuk bertelanjang di muka orang lain. Mengapa kita
menganggap hal itu sebagai hal yang biadab, primitif a la jaman batu,
tidak
pantas dilakukan manusia yang sopan. Coba bayangkan bila kita tinggal
di suatu kota, lupakan kemungkinan suhu yang dingin dulu, andaikan
bahwa suhu stabil plus 25C. Kita berangkat ke kantor atau ke sekolah,
orang-orang yang menunggu bis maupun berjalan kaki, bugil semuanya.
Tidak perlu lagi yang bernama pakaian seragam, jas dan dasi yang
membedakan kita orang hebat atau celana rombeng karena kere. Segala
macam perut, kokokbeluk dan BD dapat kita
lihat. Mungkin di hari-hari pertama mata kita akan melotot tak
berkedip,
tetapi seminggu sebulan melihat jenis perut dari yang kempes sampai
yang
sebesar tong, kokokbeluk dari sebesar cabe-rawit sampai ketimun :-), BD
dari
yang sedatar papan berpaku pines dua sampai yang sebesar papaya :-O,
akhirnya
kita toh akan bosan. Itu belum apa-apa. Di kantor, bos dan juragan yang
biasanya sok, coba kita perhatikan lagaknya bila ia tidak berjas dan
berdasi
lagi, apakah akan lebih rendah hati. Guru dan propesor yang perutnya
kembung,
apakah PD-nya masih tetap sama bila harus berdiri di depan kelas dan
bila doi
melihat ke bawah hanya tampak udelnya :-). Gilak yah lamunanku di siang
itu.
Semua gara-gara Cecilia dan Silvana yang berenang bugil, jadi salahkan
mereka
kalau Anda jenis manusia tukang cari kambing hitam atau kesalahan orang
:-).
Saking memang salah satu hobiku yang lain bernama iseng, ja'il
istilah anak
Betawi, kutanya M., salah seorang puteri T. dan A sebab ia membonceng
dan
membantu mendayung di kanu kami. "Do you like seeing those two women
swimming
naked?" "No, I don't like it." "I see; have you seen your Mom or Dad
running
around the house naked?" Ia menggeleng, jelas ia tidak nyaman melihat
orang
telanjang, alias sudah diajarkan apa yang namanya sopan santun a la
orang
beradab :-).
Masih ingat suatu pemeo yang kutulis di salah satu tayangan
canoe camping-ku?
Bahwa embahnya perkanuan dari Kanada, almarhum oom Bill Mason pengarang
'Path of the Paddle' berkata, "Canoe is the poor man's cruise ship." Di
pagi hari, sehabis menemani dan membantu J. menyiapkan hidangan pagi,
hapermot yang kami buat menjadi seperti resep anak Indo alias kental
sekali, saya melamun, bagaimana bila orang-orang kaya dan berpangkat
seperti Ratu Elisabeth membaca tayangan P-Net ini :-) dan ingin melihat
Killarney? Bagaimana bila anak bontotnya si Edward ingin berbulan-madu
dan mandi bugil
bersama si Sophie di Danau O.S.A.? :-) Beberapa kemungkinan akan
terjadi,
Killarney ditutup untuk seminggu dua minggu dari rakyat jelata dan
beliauw-
beliauw diturunkan dari helikopter, wer-wer-wer, sehingga tak perlu
berjerih-payah
bermobil 5-6 jam dari Toronto, mendayung berjam-jam dari tempat parkir,
menggotong kanu ratusan meter. Kemungkinan kedua si Tante Lis dan Oom
Phil akan ikutan kami melakukan semua yang kami telah lakukan.
Terakhir, beliau
minta dibuatkan Killarney bohong-bohongan di Buckingham Palace dan
dengan
teknologi modern hal itu bisa terjadi. Wong belum lama ini daku
mendengar
temanku juragan Lippo besanan dengan dokter ahli jantung numero uno di
Indo
dan konon ruangan di hotelnya dibuat persis seperti gereja Katedral!
Kalau
milyarder Rupiahan saja mampu begitu, apalagi milyarder Poundsterling.
Namun pren sadayana, itulah bedanya pencinta alam kere dengan
pencinta alam
kelas salon alias yang berduit, mereka tidak akan dapat menikmati apa
yang
telah kami nikmati. Mana mungkin mereka harus masak nasi yang dengan
segala
kecintaan ditilik apinya agar sesekecil mungkin supaya aronnya tidak
menjadi
hangus dan nasinya bau? Itu memang tugas muliaku yang diminta oleh
Silvana
ketika kemarin mereka semua meninggalkan daku untuk memasak nasi,
menyiapkan
tali kerekan makanan, mencuci piring mangkok sendok, menggergaji kayu
bakar,
dst. dsb. Bohong, Silvana hanya minta tolong masak nasi tetapi karena
daku
sedang bahagia maka kukerjakan semua yang ekstra di atas. Mereka tidak
tahu
saja, ada 10 kali aku harus melempar tali mickey-mouse-ku (karena kecil
dan
bego) ke atas dahan suatu pohon yang cukup tinggi, agar dapat dijadikan
patokan atau jangkar kerekan makanan. Itulah sebabnya Jum'at kemarin
daku
bersepeda ke MEC untuk membeli 22 meter (beli 20 dapat 22 karena
keroyalan
mengukur si sinyo :-)) tali berukuran 7 mm dan tahan 2200 pound berat
beban.
Kenyamanan dan kebahagiaan di kempingan yang kami lakukan, karena kami
datang
tanpa diturunkan dari heli atau bles ditransportasikan dengan
transponder
a la Star Trek (kulupa namanya, namun para Trekkies tentu tahu
maksudku) tak
ada lawannya pren. Mirip dengan kalau Anda sedang menjalani kehidupan
dan
sepertinya kog nasib sial be'eng. Nanti, kalau semua yang "sial" itu
sudah
berlalu, senyuman Anda akan dari kuping ke kuping, mirip dengan seorang
peserta ceramah ahli seks Dr. Ruth. Pernah dengar ya isi ceritanya? :-)
Kalau
belum atau lupa tanya Oom Frans P3K sebab ia menghapalkan semua
tayanganku:-).
Ketika sedang banyak waktuku merenung itu, daku menyesal buku
berjudul 'Anak
Segala Bangsa' kutinggal di mobil di tempat parkir. Soalnya buku itu
hardcover
dan boleh pinjam lagi meski sudah dimakan kutu. Jadi kuputuskan untuk
tidak
membawanya. Meskipun saya mempunyai keempat Buru Quartet lengkap dengan
tanda-tangan
si Mbah Pram, sekarang daku tidak berminat membaca yang bahasa Inggris
sejak Silvana meminjamkanku 'Bumi Manusia'. Lebih afdol membaca yang
ditulis
di dalam bahasa ibu sendiri, ya engga? Kesan dan kenangan kunjungan
Pram ke Toronto memang masih membekas di diriku sehingga tak dapat
tidak untuk kumasukkan di dalam program lamunan :-). Belum lama ini
kusyer ke-THP-anku
ketika seorang di Toronto berteriak "komunis!" menanggapi undangan
untuk ikut
hadir di acara Pramoedya. Kasihan sekali sebetulnya manusia-manusia
Indo yang sudah dicuci-otaknya oleh rezim penguasa di Indo, meski sudah
puluhan tahun
menjadi manusia yang seharusnya merdeka. Hanya ironisnya, mungkin
mereka yang
kasihan kepadaku, yang sekarang sudah ikut menjadi "orang komunis" dan
main
politik :-), eh :-(. Kudapat-bayangkan karena sambil melamun dan
merenung,
terkadang daku menggaruk bentol-bentol gigitan nyamuk dan
lalat-menjangan
atau lalat-kuda (deer flies, horse flies) yang sekarang sedang menjadi
preman
di cagar-cagar alam propinsi Ontario ini. Saya berbahagia dapat kemping
ke
pedalaman dan masuk ke dalam hutan. Anda anak-anak kota yang
"kempingnya" di
syoping mal kata si Rendra, mentertawakan keblo'onanku :-) dan sangat
kasihan
ada orang gosbloks seperti kami ini yang sampai rela digigiti puluhan
lalat dalam mencari yang namanya kebahagiaan :-).
Setelah cukup lama merenung dan melamun sambil menunggui T.
dan A. membereskan
perlengkapan mereka, akhirnya kami mulai berangkat pulang meski hari
sudah
menjelang jam 12. Hapermot jatah makan pagi tidak cukup atau cocok
untuk
perutku yang setiap pagi dicekoki nasi :-). Akibatnya ia mulai
memberontak
tapi tidak terlalu kupedulikan sebab sebentar lagi, 14 Juni di Betawi
:-).
Salah satu kesenanganku di kempingan kali ini adalah mengamati dan
menikmati
formasi bebek-bebek Kanada, Canada Geese yang kalau bukan sedang pulang
kampung habis pakansi, sedang terbang mencari 'syoping mal' :-). Dari
jauh
kita sudah dapat mendengarnya, honk-honk-honk, bunyi suara kawanan
bebek.
Kalau pemandangan tidak terbuka, lekas-lekas kubergegas mencari
darimana
mereka datang. Suatu ketika, satu rombongan yang jumlahnya lebih dari
seratus
bebek, mirip kawula PDI-P di P-Net :-) terbang melintas. Indah
sekhalei, apalagi mereka tidak membawa parang dan golok :-). Huruf
V-nya bervariasi
tetapi mereka selalu akan membentuk lagi formasi V itu, mungkin senang
dengan
si Viktor, Vikiran-Kotor Yo Riono :-). Nah, dapat Anda bayangkan
perasaan hatiku ketika satu formasi terbang sangat rendah menuju kanuku
pada saat
tengah hari di lamunanku ini. "Oh my God," kataku dalam hati dan J.
teman
mendayungku di pagi itu berkata, "Amazing, I have never had this before
in my life." "Aren't we lucky?," kataku dan ia mengangguk. Thank you
God for your many blessings in my life including that birthday give
'show'. Sekian
syeringku dari perjalanan canoe camping yang terakhir, semoga berkenan,
salam
dari Killarney lewat Toronto.
13 Juni 1999