Tayangan ini dapat kuberikan cem-macem judul sebetulnya, 7
hari 6 malam
tanpa televisi, renungan api unggun, atau dongengan dari Killarney
(lagi).
Karena judul di atas sedikit mencerminkan perkelanaan Bang Jeha dan
Empoknya
semingguan terakhir ini, kupilih demikian. Seperti biasanya pulang
kemping,
oleh-oleh tidak banyak atau hampir tidak ada, kekecualian beberapa
puluh
bentol bekas gigitan nyamuk maupun lalat, deer fly, horse fly, atau
lalat
jenis kurang ajar lainnya yang kalau nemplok langsung nyelekot. Yang
pasti
dan mestinya ditunggu para penggemar dongenganku, oleh-oleh berupa
kisah
kemping berkanu kami kali ini. Kami adalah 9 manusia yang senangnya
mencari
susah, sudah bagus punya rumah atau tinggal di apartemen, memilih cari
susah
tidur beralas thermarest di atas tanah atau batu karang selama 6 malam.
Tujuh di antaranya warga milis Serviam di Toruntung, yang satu sohibku
anak
bulek dari Ottawa si J yang kusingkat saja namanya sebab ga bisa
ngebales
kalu dijailin, yang satu lagi warga P-Sby. Anak bulek ini, seumur
hidupnya
baru pertama kali ini kemping dengan 8 melayu dengan akibat, ia akui
sendiri,
ia makan nasi 3 kali sehari :-). Bayangkan, menu makan malam pertama
nasi
dengan ayam panggang a la Bebeth, paginya bubur ayam Cecilia, siangnya
nasi
dengan daging Pilipin tukaran dollar si Trisna/Ayrin, malamnya lagi
nasi pake
babi kecap kreasi si Bebeth. Seumur hidupnya belum pernah ia makan nasi
selama
4 kali berturut-turut sehingga ia bertekad akan "membalas" untuk di
tripnya
mendatang, masak pasta 4 kali terus menerus. Itu sebabnya Bebeth anak
Melayu
ogah ikut di canoe camping kami tanggal 12 Agustus nanti bersama J :-).
Bukan hanya karena ia tidak doyan pasta, disuguhi macaroni and
cheese, ia
milih masak lagi Indomie goreng. Tapi karena dengan hanya sekali
kemping pergi
bersama kami di trip ini, ia sudah mengalami semuanya yang kami, para
oldcrack
berpuluhan kali kemping belum tentu sekali melihat. Bayangkan, dari
dahulu
saya tahu bahwa batu-batuan di sekitar Killarney itu istimewa
variasinya.
Ladalah biyung-biyung, si Bebeth ternyata geologist eks NTM, Ngenstitut
Teknologi Mbandung. Pantes jowone cukupan mantepnya :-). Tentu saja ia
merasa
seolah benar-benar berada di surga, dikatakannya sendiri. Sekarang
barulah ia
percaya kalau kukatakan Killarney bak kahyangan atau surga di dunia.
Untung
ia hanya pergi seminggu. Kalau saja sebulan, bagasi mobilku akan penuh
dengan
cem-macem batuan oleh-oleh yang digondolnya. Kukatakan kepadanya bahwa
ia
sungguh disayang Oom Han. Betapa tidak, sudah dapat menikmati kemping
di
Killarney Lake 3 malam berturutan, padahal aturannya hanya bisa
maksimum
2 malam. Padahal si Trisna setiap bulan sejak Pebruari menelepon
Ontario Parks
untuk ngebook dan ga dapet-dapet. Berkat Bebethlah kami diberkahi cuaca
yang
sungguh asoi. Hanya sekali hujan yang berarti dan itupun di jam siesta
di
sore hari sesudah kami sempat hiking beberapa jam memanjat suatu bukit
karang.
Dewa hujan, tak sampai hati harus menyirami tanaman sekitar Killarney,
menyuguhkan pemandangan full-rainbow alias pelangi berbusur lengkap 180
derajat agar dapat dinikmati oleh Bebeth seusai hujan :-).
"Lah Bang Jeha, mau liat pelangi sih engga usah ke Killarney,
ambil kaca
prisma atau sirami air azha ke atas," kata Anda. Tunggu dulu pren. Coba
ngacung, berapa dari antaramu yang sudah pernah melihat aurora
borealis,
northern light? Di dalam interior campingmu yang pertama di Kanada ini?
Ya,
di malam terakhir, si Bebeth sekali lagi dipeluk oleh kasih sayang Oom
Han
dan diberikan pertunjukan cahaya dari utara itu. Tidak
tanggung-tanggung,
selama hampir 1 jam, sepanjang kira-kira 90 derajat cakrawala langit
utara.
Memang ia anak sakti. Tak heran. Sebelum berangkat kemping, ia ikut
retret
dulu soalnya :-). Ombak Georgian Bay yang ditakuti para canoeist,
ketika
Bebeth dan man-teminnya masuk di teluk itu dari muara sungai
Chikanishing,
hampir tidak ada. Cuma berupa riakan kecil, sama seperti mendayung di
empang
bandeng di Cengkareng :-). Memang sudah kuketahui bahwa geologist
banyak yang
sakti, kemampuan mendaki gunung mereka hesbat sekhalei, tapi baru kali
ini
kubertemu yang sesakti Bebeth. Tak heran ia doyannya nasi doang :-).
Sekian
dulu jailan, eh dongengan pertama oleh-oleh canoe tripku ke Killarney 3
malam
disambung dengan George Lake semalam dan Georgian Bay 2 malam. BTW
prens
sadayana, makanya Bang Jeha berani ngejailin si Bebeth, belon ada
satpam atau
kang pukulnya :-). Doi masih epeilebel, jadi cepetan sebelon ente
keburu
keduluan. Pokoke kemping ama si Bebeth, asalkan doyan babi kecap, anak
itu
benar sakti :-).
Tiada yang istimewa dalam perjalanan kami berdua mobil dari
Toronto ke
George Lake campground di Killarney Park. Jarak sekitar 400 km itu
dengan
lancar kami tempuh, antara lain berkat ban bo'il baruku yang kuganti
sehari
sebelumnya :-). Ya, demi menghormati kedua penumpangku, Bebeth dan
'Chuck'
Indratmo alias si Cak, kumodali ban baru. Sebetulnya kanpasan ban
lamanya
masih oke sih buat wong Melayu, apalagi yang pelit, eh hemat kaya Bang
Jeha.
Tapi karena Highway 69 terkenal salah satu jalan raya maut, sekali
meleng,
amblaslah dikau, kutukar dengan Motomaster radial, 301 $ termasuk tax.
Soalnya
kupilih ban murahan itu, bukannya Michelin MX4 yang tadinya kupakai,
sebab
temanku si B yang tinggal di dekat Columbus, Ohio, pake Motomaster.
Kutanya
2 mingguan lalu ketika ia pulang nyetor ke bininya, gajinya :-), "Eh B
elu
setiap 2 minggu bolak balik ribuan kilometer,elu pake ban apaan?" Dari
jawaban
dan nasihatnya, percuma beli ban mahal, yang penting ngegelinding,
kutelepon
hampir seluruh Canadian Tire dekat rumahku sebab sang Motomaster yang
lagi
obral :-) terjual habis alias laku keras. Orang Kanada memang
hemat-hemat.
Sesuai dengan perkiraan dan taksiranku, pas jam 3 siang, 3
kanu dengan 9
penumpangnya, ga bisa lebih hemat lagi :-), meluncur dari George Lake
menuju
Killarney Lake. Pendayungannya termasuk asyik karena ombak setinggi
sekitar
satu kaki,30 cm,datangnya dari buritan. Portage menuju Freeland Lake
dan dari
situ ke Killarney Lake, masing-masing 80 dan 455 meter dengan ecel
dijalani
Cecilia sambil memanggul kanu karena ia sayang suami :-). Hanya
kesayangannya
masih kalah oleh Trisna yang bukan saja memanggul kanu, tapi balik
kembali
mengangkut ransel dan cem-macem benda milik keluarganya. Setelah
mendarat di
campsite nomor 20 yang cukup oke dan mengirimkan tim ekspedisi untuk
mencek
beberapa campsite lainnya, laporan sang "motorboat" Kang Trisna adalah,
nomor
20 pilihan yang jitu. Tak tahan kepanasan dan melihat air hijau biru
turquoise
yang rupawan itu, Bang Jeha memulai eksyen alias berenang di Killarney
Lake.
Asyiknyaaa :-). Berenang yang paling sedap memang sehabis kepanasan
bersimbah-peluh
di kolam berair yang jernih. Tak heran Cak Indratmo tidak berkeberatan
untuk kalau ia ada waktu, berenang di Nellie Lake lagi :-). Ya, tahun
lalu
rombongan yang sama kecuali tiada Bebeth tapi bersama beberapa
man-temin anak
Ottawa, kami melakukan kemping berkanu yang kisahnya dapat Anda baca di
Kemping Kanu 10 Hari 9 Malam:
http://ca.geocities.com/hilwan/kemping.htm.
Setelah acara mencari kapling pemasangan tenda kami, 4
jumlahnya, selesai,
persiapan memasak nasi alias makan malam dimulai. Dengan 2 kompor, MSR
dan
Primus yang nasibnya akan kudongengkan nanti, ditambah asistensi dari
tukang
masak nasi berpengalaman puluhan tahun :-), hidangan tak lama kemudian
kami
santap disusul dengan acara api unggun. Kali ini saya hanya perlu
meminjamkan
gergajiku ke tukang kayu kami J yang rajin menyediakan cem-macem kayu
untuk
dibakar, ditonton dan direnungkan. Pertanyaan renungan pertama. Mengapa
batu-
batu yang selama ini kulihat, kucuekkan saja, semuanya sama bagiku :-)
tetapi
bagi seorang geologist kaya si Bebeth, setiap batu membawa pesona dan
cerita?
"Lantaran ente sekolahnya jadi kang listrik dan si Bebeth pemulung
batu," kata
anak pinter di milis kita ini. Bejug, bener juga. Bagi seorang awam
yang naif
batu hanyalah batu, bagi seorang geolog batu mempesonakan. Bagi manusia
yang
normal, setiap manusia lainnya adalah normal seperti dirinya, bagi
seorang
sepikolog semuanya "abnormal" :-). Seriusan, bagi psikolog yang
bertahunan
mempelajari perilaku manusia, tentu saja setiap manusia akan menarik
hatinya
untuk disimak dan dianalisis. Bagi seorang awam dari tanah Melayu,
pohon pinus
ya sama dengan cemara. Bagi anak Kanada yang sudah berkanu 160 km
sehingga
dijuluki 'child of nature' oleh Oom Pierre, pohon cemara ada ratusan
jenisnya,
dari mulai balsam fir yang sering dipakai sebagai pohon Natal, sampai
ke jack
pine yang menjadi terkenal karena pelukis Tom Thompson hingga ke
douglas fir
yang menjadi sumber kayu terbesar se-Amrik Utara lantaran ukurannya
yang gede
dengan tinggi puluhan meter. Asyiknya merenungi persepsi setiap insan
diiringi
aroma api unggun dari berjenis-jenis cemara. :-)
Hari kedua dimana si J makan nasi 3 kali, 'rice for breakfast'
katanya sambil
ketawa-ketiwi, memang salah satu hari yang terindah. Inilah hari dimana
si
Bebeth merasa bak ada di surga :-). Betapa tidak, santapan pembukaannya
saja
sudah bubur ayam a la Cecilia yang sudah terkenal seantero Toronto.
Meskipun
ia memasak sepanci penuh, tidak pernah bubur ayamnya sampai harus
dibuang
sebab kalau tidak di acara makan siang, akan dihabek peserta kempingan
kami
di malam harinya. Bubur ayamnya juga lengkap sekali, dari mulai cakwee
yang
bisa dibeli di banyak "warung encek" di Toruntung, sampai ke daun
bawang,
bawang goreng dan tongcai. Selesai makan, kami sepakat untuk motong
jalan,
tidak mengambil rute ber-portage panjang 455 meter tetapi yang 130
meter
azha dengan satu kendala, harus melintasi satu beaver dam. Seperti Anda
sudah
sering kudongengkan, menemui beaver dam di dalam canoe trip, selalu
membuat
jengkel, 'ja'ul lu Ver' :-). Semakin tinggi sang bendungan, semakin
ja'ul
memang para beaver itu sebab artinya kita mesti mengosongkan kanu kita
dari
cem-macem perbekalan. Untungnya 'day trip' atau perjalanan turne model
hari
kedua itu adalah, tak banyak barang yang kami bawa sehingga kanu
tinggal
digelosorin di atas tumpukan kayu bendungan.
Seusai portage pendek di atas kami tempuh, terbentanglah danau
O.S.A., satu-
satunya danau bernama singkatan di Ontario ini kalau bukan di seluruh
Kanada.
Tak heran kalau ia memang indah sebab digandrungi 'Ontario Society of
Artists'
yang sering ke Killarney untuk melukis. Karena menjelang makan siang,
kami
langsung mencari sebuah pulau untuk tempat mangkal dan bersantap.
Weleh-weleh,
kompor Primus kebanggaan Akang Trisna, ngadat engga mau bekerja. Montir
anak
murid Bang Usman mulai menganalisis apa kebegoannya. Ternyata kepala
kompornya
rada oblak, pertama karena ia dipakein tangki minyak merek MSR alias ga
cocok.
Kedua, karena Kang Trisna maksa waktu memasukkan sang kepala kompor ke
botol.
Kata pabrik Primus sih, 'compatible with any fuel bottle', buktinya
engga.
Tidak mempunyai atau membawa teflon tape, Bang Jeha memakai plastik
dari
plester band-aid untuk dikalungi di sang sekrup kompor ke tangki
minyaknya.
Berhasil akalan Bang Jeha Usman ini dengan akibat daging Pilipinnya
lebih
asyik dimakan karena dipanasin dulu.
Habis makan, acara siesta alias tidur-tidur non-ayam dilakukan
dipimpin oleh
ogut :-). Namun Ayrin dan Bebeth yang tidak suka tidur, tak dapat
menahan
nafsunya untuk nyemplung ke perairan OSA Lake dan berenang menuju suatu
pulau
lainnya. J anak bae, tahu bahwa akan dibutuhkan usaha yang cukup berat
untuk
berenang balik, tidak lama kemudian menurunkan kanunya ditemani Cecilia
yang
sejak tadi punya rencana tersendiri. Mereka menjemput kedua perenang
kami
untuk berempat pergi menuju suatu 'diving platform'. Ya, isteriku
terkenang
ketika ia loncat 'au naturel' dari tebing itu di seberang pulau kami.
Jadi ia
ingin mengulangi lagi tetapi karena banyak penonton maka kali ini ia
memakai
baju renangnya :-). Akan halnya Bang Jeha dan Cak, kami memutuskan
tidak ikut
acara loncat sebab waktu kecil beta sudah kenyang loncat ke Kali
Ciliwung :-).
Sepulang dari OSA Lake barulah daku berenang di dekat "rumah" dan kali
ini
tentu 'au naturel' alias dengan pakaian pemberian Oom Han doang. Rakyat
berteriak: "Awas digigit kuya," namun mereka tidak tahu bahwa kuya yang
memang
sekali-sekali nongol di pinggir danau itu akan menganggap 'ini sih
pren'
begitu melihat gantolan istimewaku yang antik mirip kepala kuya. :-)
Acara malam hari di 'interior camping' akan tidak sah bila
tiada api unggun,
tak peduli nyamuknya lumejen jumlahnya. Namun, kasihan rupanya dewa
angin
alias si bayu kepada Cak Indratmo yang kalau malam membungkus rapat
tubuhnya,
angin kencang menghembus api unggun kami. Dalam keadaan demikian, tak
akan
ada lagi nyamuk yang mampu berkeliaran. Jangankan nyamuk, kapal terbang
beras
ketannya Habibie pun akan nyungsep terbang serendah itu :-). Nah, hanya
tinggal kami bertiga yang masih main api di saat itu, saya, J dan Cak.
"Look
at that," kata J setengah berteriak. Kayu gelondongan tempat kami
bertengger
alias duduk di sekitar api unggun yang letaknya cukup jauh sudah
terbakar.
Gilak sekhalei, angin yang berhembus membuat lelatu api unggun seperti
ngelas
sang kayu. Dengan sigap J menyebrok sang api dengan air seember kecil
yang
memang sudah disiapkan karena air bekas cucian piring. Itulah salah
satu
faktor yang dapat menyebabkan kebakaran hutan. Pesan renungan hari itu,
tak
layak kita memandang enteng lelatu api. Banyak manusia yang
kelihatannya
"setitik doang" tetapi bila suatu ketika "dihembus angin", ia dapat
menjadi
perkasa. Tidak percaya? Ga pa pa sebab namanya juga dongengan Bang Jeha
:-).
Memang, main api di dalam hutan tidak bisa main-main. Sesekali
bila kami
kemping ke interior, tertera larangan memasang api unggun karena
keringnya
udara alias satu percikan api dapat menyebabkan kebakaran sejuta
jenggot.
Karena seringnya memasak air panas untuk mencuci piring padahal waktu
trip
tahun lalu ke West Killarney, air seperti itu selalu kami masak di atas
api
unggun, naphta 3 liter yang kubawa bersama Trisna, hampir habis di
babak
pertama trip kami. Sambil melamunkan panas dan besarnya kobaran api
unggun
kami, kubandingkan dengan 3 liter bahan bakar kami. Kalau dipakai
sebagai
"api unggun", enersi sedemikian hanya mampu bertahan beberapa menit,
padahal
dengan kayu yang tersedia kami dapat menikmati api berjam-jam.Tak
terbayangkan
enersi yang terkandung dalam alam, baik kayu bagi api, air bagi minuman
maupun
sumber daya lainnya. Suatu hari, bo'il Anda akan berjalan memakai air
pada
saat Pertamina bangkrut alias kehabisan sumber minyaknya. Ya, mesin
canggih
bersumber bahan bakar hidrogen hanyalah soal waktu belaka.
Salah satu penemuan canggih yang sudah mampu dibeli oleh
rakyat adalah GPS,
Global Positioning System yang isinya pada dasarnya komputer dengan
transmisi
radio dari satelit di langit. Bukan saja ia dapat memberitahukan posisi
kita
di bumi, ia juga memberikan kemampuan trekking. Itulah sebabnya, ketika
kami
di hari ketiga selesai mendaki suatu bukit karang, dengan mudahnya
hamba dapat
menemukan jalanan pulang tanpa perlu memanjang-manjangkan leher untuk
mengamati dari arah mana kami manjatnya. Itu juga sebabnya ketika saya
dan
nyonya suatu saat dilanda hujan badai waktu kemping di interior Bon
Echo dan
belum memiliki GPS, kukatakan "percuma turun pulang Yang, tidak bakalan
kita
bisa menemukan jalan melintasi daerah batu-batuan karang di trail dalam
keadaan gelap begini." Cecilia anak bae mengerti dan sebagai hadiahnya
harus
mendekam di dalam tenda yang bocor berats, kudongengi ia cerita yang
masih
dikenangnya sampai kini hingga disinggungnya di trip Killarney ini
kepada
para peserta. Ya, kisah wartawan AP Oom Terry Anderson yang disandera
di
Beirut bersama beberapa wong Amrik lainnya. Selama 500 hari lebih
mereka tak
mampu keluar dari "tenda" dan pulang ke rumah. Kesengsaraan Bang Jeha
dan
Empoknya pada malam itu tak ada artinya sehingga meski kedinginan dan
kebasahan, kami tetap dapat tidur cukup nyenyak.
Seperti sudah kusinggung di tayangan terdahulu, hari ketiga
kami di Killarney
hanya diisi dengan hiking mendaki bukit quartzite yang sudah somplak
sedikit
batuannya karena dicongkel dan dibawa pulang oleh si Bebeth :-). Karena
sejuknya udara dan juga basah, tidak lama kami bermain api unggun di
malam
itu. Ketambahan keesokan harinya kami harus cabut, pindah ke George
Lake
campground alias kemping di sebelah mobil. Perjalanan kembali kami dari
Killarney Lake pun tidak begitu mengesankan seperti berangkatnya,
terutama
karena tiadanya pemandangan g-string favorit si J :-).
Membandingkan fasilitas campsite di George Lake dengan yang di
interior memang
tidak adil. WC-nya 'flush toilet', lebih bagus dan modern dari di rumah
nyokapku di Betawi. Mereka yang kepalanya ketombean :-), tidak
melewatkan
kesempatan untuk keramas. Dimulai oleh Cecilia yang kolokan dan meminta
seember kecil air panas, si J ikut-ikutan minta dipanasin air juga.
Mereka
keramas di dalam WC sebab tidak tahu bahwa sudah ada fasilitas shower
tahun
ini karena tidak membaca 'readme file' alias brosur George Lake
campground
maupun bertanya ke si noni di kantor. Cak Indratmo beristirahat memompa
air
danau malam itu karena air di ledeng campground langsung dapat diminum.
Api
unggun kami nyalakan memakai kayu bakar sekantong boleh beli 5 $ dan
dapat
beberapa biji. Karena hujan sempat turun alias kayunya basah, tidak
semuanya
kami habiskan sehingga Ayrin si hemat, menyimpannya untuk kemping
minggu
depan bersama 27 melayus di Algonquin :-). Jadi ente-ente yang akan
kemping
bersama Kang Trisna di Pog Lake, kalau merenung di muka api unggun,
berdoalah
untuk Ayrin supaya modal kayunya semakin banyak :-). Tak ada renungan
malam
itu sebab kayu bakarnya kurang banyak alias kami hanya sebentar duduk
di
muka api unggun.
Sambil membereskan barang-barang untuk dibawa keesokan
harinya, saya merasa
lega bahwa ada "babak istirahat" di trip kali ini, 3 malam di interior
lalu
semalam ke peradaban dan 2 malam kemudian ke Georgian Bay. Tak
terbayangkan
membawa makanan 2 kali lipat dari babak I dengan 3 kanu yang dimuati 9
orang.
Itulah juga sebabnya ketika daku menurunkan makanan seton di trip tahun
lalu,
saya harus hati-hati dan terkadang memakai sarung tangan agar tanganku
tidak
"terbakar" oleh tali yang lari meluncur. Perencanaan yang baik sangat
menentukan kenyamanan kemping, hal ini tak dapat dibantah lagi dan
penting
untuk Anda ingat bila mau mengikuti jejak Bang Jeha menjadi 'child of
nature'.
"This is the day," begitu kata hatiku ketika bangun sebab kami
akan mengarungi
Georgian Bay, teluk yang seluas laut di selatan Killarney. Senang juga
ketika
matahari pagi mulai bersinar terik. Salah satu kebahagiaan para campers
adalah
membongkar tenda di tengah matahari yang kenceng nyetrumnya :-). Selain
akan
lebih ringan dibandingkan bila tenda dilipat dalam keadaan basah, juga
sang
"kekasih" akan lebih bersih. Ya, tenda untuk mereka yang kempingnya di
Himalaya patut dicintai habis-habisan sebab nyawa mereka tergantung
kepada
sang tenda. Tak mungkin mereka bangun lagi bila tidur tanpa tenda.
Kesalahan kecil di dalam perencanaan memasak makanan pagi,
penugasan ke Trisna
dan Ayrin yang 'slowpoke' di dalam beres-beres karena perlengkapannya
segudang
termasuk dua anak :-), menyebabkan baru jam 11 pagi kami menyusuri
sungai
Chikanishing. Sebetulnya menu masakan pagi mereka asyik juga, Spanish
Omelette
berupa kentang yang diiris dicampur bawang bombay dan dikocokin telor.
Sayang
harus dimasak dan dimakan dalam keadaan yang kurang rileks, next time
better.
Pendayungan di sungai adalah salah satu yang paling menyenangkan daku.
Sayang
sungai Chikanishing itu pendek sekhalei dan tak lama mendayung, kami
mulai
mendekati Georgian Bay. Hatiku agak was-was meskipun kanu kami sudah
kubuat
seimbang mungkin, kiri kanan, depan belakangnya. Cecilia yang jagoan
alias
tahan lama untuk mendayung sambil berlutut, sejak awal sudah dalam
posisi itu.
Demikian pula Bang Jeha Anda, begitu ombaknya semeter, langsung akan
kusuruh
si Bebeth yang duduk di tengah tiarap :-) dan kami berdua mendayung
sambil
berlutut. Weladalah, sekali lagi si Bebeth memang sakti! Ombak di
George Lake
masih lebih besar dari di Georgian Bay. Monika anaknya Akang Trisna dan
Mbak
Ayrini pun mampu untuk mengemudikan kanu di Georgian Bay yang seperti
itu.
Jadi dengan asoi kami mendayung dan mengemudikan kanu menuju Collins
Inlet.
Tidak lama mendayung, pulau idaman hati yang saya dan Cecilia
pernah kunjungi
mulai tampak dari kejauhan. J yang meski jauh lebih muda dariku lebih
pikun,
masih menyuruh kami terus. Kukatakan, "No, I am positive this is the
island.
Look at that small island rock there where we all swam at one time to."
Ia
mengamati gugusan pulau-pulau mini yang kutunjuk dan mengangguk
membenarkan.
Kanu kami belokkan menuju pulau tujuan, suatu crown island alias
kemping
gratisan mau setahunan pun karena tanah milik pemerintah :-). J yang
untung
masih mengingat medan pulau itu, menyuruh kami memilih kapling
masing-masing
sebab daerah yang layak "dihuni" terbatas. Kuincer suatu lahan di bawah
pohon
cemara yang dulu pas karena tenda kami adalah 'honeymoon tent' alias
tenda
mini. Karena nyonyaku sudah kurang suka tidur di tenda itu, bosen
dipelokin
terus ama lakinya :-), kami sekarang memakai tenda yang lebih besar.
Akhirnya
kami memilih lahan lain di atas batu karang sehingga pemasangan pasak
menjadi
sedikit lebih sukar. Meskipun honeymoon sudah 26-an tahun lalu dan
tendanya
juga bukan tenda honeymoon lagi, dengan kerjasama yang erat, dalam
waktu
yang singkat, tenda kami sudah ber-Eureka alias memamerkan mereknya
:-).
Keadaan pulau masih tidak berbeda jauh dari ketika kami
kemping beberapa
tahun yang lalu. WC di tengah alam raya, dimana sambil menunaikan
kewajiban
alam kita sungguh dapat memandangi alam raya dan mendengar burung
berkicauan,
masih tetap berjaya. Ya, WC itu kreasi kedua temanku dari Ottawa, D dan
C.
Teringat akan D salah seorang anak Kanada terajin di dalam perkempingan
yang
pernah kujumpai. Tidak pernah ia berdiam diri melamun seperti ogut. Ada
saja
kerjanya untuk kenyamanan bersama. Untung hanya sedikit peserta seperti
doi
sebab kalau 8 orang kerja terus, malu dong beta ngelamun doang :-). J
yang
ngetop rajinnya di kempingan kami, tak lama pulang bersama Bebeth dan
Ayrin
membawa sekanu kayu bakar. Dengan cara gotong royong alias estafet,
kayu
diangkut dari tepi danau ke atas tebing tempat api unggun.
Tak lama kemudian, kayu bakar yang dibawa J sudah menyala
berkobar-kobar
berkat kipas angin merek Oom Han-sonic yang cukup kencang jalannya.
Aroma
cemara merebak kemana-mana dan kupandangi suatu kapal pesiar yang
berlabuh
di teluk di seberang pulau. Apakah lebih asyik duduk di dalam kapal
seperti
itu, membaca buku mungkin, menonton tivi barangkali atau tidur-tiduran
doang?
Ataukah di udara luar dihembus angin kencang dimuka api yang
berkobar-kobar?
Si pelit mulai menghitung-hitung. Satu temanku mempunyai kapal layar,
tentu
jauh lebih murah dari kapal pesiar atau yacht itu. Ia beli bekas
sekitar
20 ribu dollar. Yang engga bisa dilawan, ongkos tambat dan
maintenance-nya
sekitar 3 ribu $-an saja setahunnya, cukup untuk membeli satu kanu baru
dan
setumpuk perlengkapan kemping. Kapal pesiar itu mungkin 100 ribuan $,
sama
dengan 50 kanu dan kuyakin ongkos tambat plus maintenance-nya akan
membuat
daku kejengkang :-). Tiada yang lebih asyik melamunkan kekayaan orang
lain
namun tanpa rasa iri sedollar pun :-). Biarlah ia menikmati alam dengan
kapal
pesiarnya, pasti ia sudah kerja lebih keras dari hamba, programmer
santai yang
ogah ngoyo, cukup asal bisa kempingan beberapa minggu setahunnya :-).
Setiap
orang mempunyai prioritas dan pilihan hidup sendiri-sendiri. Asyiknya
melamun
...
Lebih dari 20 tahun kutinggal di negeri ini, tanah airku yang
kedua, belum
pernah sekalipun daku memancing karena engga minat. Seperti pernah
kutulis,
rewel banget memancing ikan di Kanada ini dimana binatang sering lebih
dihargai dari manusia di tanah airku yang pertama. Akhirnya, karena
kasian
melihat betapa nelangsanya isteriku, memancing berhari-hari di Boundary
Waters Canoeing Area, ga dapet-dapet, kukatakan, "aku temenin deh kamu
Yang."
Nah, di Collins Inlet itulah Bang Jeha mencoba memancing dengan gaya
sinyo
alias memakai kail dan kelosannya. Engga enak bener prens :-). Maklum
ogut
anak kampung, mancingnya pake bambu doang dan senurnya digulungin ke
sang
bambu. Melemparnya asyik banget, dengan gaya si David melemparkan batu
ke
si Goliath. Yakni mata kail bersama timah dan pengapungnya kita
putar-putar
sampai siem, istilah Betawi untuk kencang, dan lalu serrrrr, kita
lempar
dengan bambu searah tujuan lemparan. Dijamin jauhnya bisa 100-an meter
:-).
Weleh-weleh, memancing pakai 'rod and reel', lemparanku paling cuma
20-30
meter doang. Rupanya, ikan di sekeliling Collins Inlet itu tahu, si
Jeha
anak Betawi senangnya mancing ikan laut yang galak, jadi tak ada
satupun yang
berani menyamber kailku takut membuat kecewa :-). Puluhan kali kail
kulempar
dan kugulung, kuganti umpan pakai pepperoni, siapa tahu ada ikan dari
Itali
yang nyasar :-), tetep wae tidak ada yang mau mencaplok pancinganku.
Itulah
nasib tukang pancing Anda di hari pertama ia mulai menemani isterinya
memancing. Sejauh ini, ongkos pancingan dan license-nya sudah kebeli
ikan
setong tukang ikan di kampung Betawiku :-).
Bosen mancing, naik lagi ke atas tebing dan merenung kembali
di muka api
unggun :-). Kupilih kayu-kayu yang menurut teori kempinganku, the best
firewood in the world, yakni kayu bekas dipotong beaver. Sudah
kupesankan
memang ke J, "If you see a beaver lodge, just get the woods from there"
:-).
Bukan main kayu eks geragotan beaver itu. Begitu ditaruh langsung
menyala
hanya dalam waktu beberapa detik. Itulah kayu pilihan insan alam. Sama
seperti manusia yang dipilih oleh-Nya, mestinya oke punya dan sekali
dicemplungin ke dalam "api" akan menyala :-). Masalahnya atau yang
menjadi
persoalan adalah bila doi merasa dibakar untuk disiksa, bukan untuk
dijadikan
manusia otot kawat balung besi a la Gatutkaca. Seperti sering
kudongengkan
di tayanganku, mereka yang pernah mengalami percobaan atau
kesengsaraan, bila
suatu ketika menjadi oke lagi dan mampu menimba manfaat dari pengalaman
susahnya itu, niscaya si eks THP akan menjadi lebih oke dibandingkan
dengan kita-kita yang hidupnya keenakan terus.
Langit semakin gelap namun cerah. Bulan belum nongol,
syukurlah. Kesempatan
untuk mengunjungi planetarium alam gratisan dengan kubah 360 derajat
alias
pandangan terbuka kemana-mana karena kami ada di atas pulau. Kami
memilih
langit bagian utara karena kemungkinan terjadinya peristiwa istimewa
(tunggu
tanggal mainnya :-)). Tidak mungkin kita dapat melihat meteor atau
bintang
jato bila kita ada di planetarium buatan manusia. Entah apakah sekali
lagi
karena kesaktian si Bebeth atau kami semua mujur, hampir setiap 5
menit, ada
saja yang melihat meteor. Satelit sih sudah kebanyakan banget yang
setiap
saat dapat kita lihat lewat di berbagai posisi atau bagian langit.
Meskipun
sudah puluhan ratusan kali kita melihat Gugusan Bimasakti, Milky Way
Galaxy
maupun bintang-bintang di langit, tidak pernah bosan rasanya. Sayang
sampai
saat ini, daku belum pernah kemping dengan seorang astronomer :-).
Pastilah
kuliahnya akan tak kalah menariknya dari kuliah geologinya si Bebeth
:-).
Hari Jum'at Friday the 13th yang ditahyuli banyak manusia
sedunia tiba
diiringi matahari yang cukup oke. Kulaburi tubuhku dengan sunscreen
lotion
ber-SPF 30 yang waterproof. Tujuan turne harian alias 'day trip' adalah
menyusuri sebuah jalur sempit menuju Georgian Bay dari Collins Inlet
itu.
Tiga kanu bersembilan penumpang tak lama memasuki teluk kecil di awal
sang
jalur. Kubiarkan J di kanu paling depan menyimak terus dan mereka-reka
dari mana kami harus mulai masuk. Ia mendarat di sebuah tebing, keluar
dari
kanunya dan memanjat ke atas melongok kesana kemari. Ia sudah menemukan
jalanan yang kami pernah tempuh beberapa tahun lalu. Sayang sekali, tak
begitu lama mencoba memulai, tinggi air di daerah itu semakin payah
alias
tak mungkin dilalui kanu-kanu kami. Akhirnya kami berbalik arah dan
memutuskan
keluar ke Georgian Bay melalui "jalan raya" azha alias ke arah
Chikanishing
River.
Tepat menjelang teng jam makan siang, kami sudah berada di
antara puluhan
pulau-pulau karang di utara Georgian Bay yang airnya sedingin air es.
Lantaran
perutku akan moring-moring bila telat diisinya, sahaya langsung
mengusulkan
untuk segera menuju salah satu pulau yang terbesar, berlabuh dan masak.
Giliran si Cak untuk membuat macaroni and cheese dimana Bebeth minta
spesial
duluan sebelum keju seabrek-abrek dicampur :-). Angin yang cukup
kencang
dan Cak seorang diri yang repot masak alias tidak ada yang membantunya
menghalangi angin ke kompor gasku membuat airnya ga mendidih-mendidih.
Baru
ketika rakyat mulai complain, kog lama banget, kutilik dan kutadangi
angin
dari satu arah. Tidak berapa lama airnya bergolak dan santapan macaroni
yang lumejen dapat kita gasak.
Ketika kami sedang eksyen mau mengambil "foto
keluarga",serombongan 'g-string'
lewat lagi. Ada 10 kanu kali hanya sayang cuma string bagian atas yang
tampak.
Rupanya Georgian Bay merupakan salah satu daerah favorit perkempingan
para
awewek sebab relatif aman. Ketika belakangan kulewati perkampungan
tenda
mereka, kulihat tenda yang dipakai seragam semuanya alias pastilah
mereka
menyewa dari 'outfitter', tenda maupun kanunya. Good idea. Dalam
perjalanan
pulang, kami mampir lagi di suatu gugusan kepulauan karang mini.
Meskipun
airnya sedingin es, Oom J berminat berenang. Kutantang ia, "You go au
naturel and I will join you." Lama banget ia mengambil keputusan.
membuatku
tidak sabar :-). Akhirnya dengan modal nekads meski tahu tidak mungkin
bisa
berenang di air sedingin itu, kulepaskan semua prenik-prenik dan terjun
bebas ke dalam air es Georgian Bay tersebut. Seluruh tubuh seperti
merinding
dan berjerawatan, pokoknya suatu perasaan yang sukar dilukiskan. Tidak
sampai semenit kucoba berenang di bagian kepulauan itu, langsung daku
menepi
menyerah, gilak sekhalei. Semenit lagi pasti kram dan 5 menit terkena
hypo-thermia.
Inilah yang ditakuti mereka yang berkanu di danau besar, kalau sampai
kanu terbalik dan jauh dari daratan. Bisa berenang juga tak ada
manfaatnya.
Hanya saja, bukan main segarnya sehabis menyemplung di air es Georgian
Bay
itu. J dan Cak Indratmo serta nyonyaku, cewek satu-satunya yang nekad
nyemplung juga, pasti mau bersaksi bahwa pengalaman itu tiada duanya,
very
refreshing.
Makan malam adalah spaghetti a la J yang cukup pinter juga
masaknya, berkat
seringnya kemping ama Melayus :-). Kemarin malamnya, lentil soup yang
dimasaknya sungguh enak, tak kalah dengan makan di restoran sampai
isteriku
nambah 3 kali. Gimana ia lalu tidak kuat ngangkat kanu :-). Jadi hari
itu,
3 kali makan pasta mulu sehingga sedikit banyak si J sudah ngebales
dimasakin
nasi terus. Sebetulnya pasta bermuatan karbohidrat sangat bagus untuk
mereka
yang berolahraga berat. Man-temanku para cyclist kalau mau ngenjot
ratusan km
makan spaghetti sepanci sehari sebelumnya :-). Ga heran si Bebeth engga
kuat
ngangkat kanu selangkahpun :-). Sehabis makan malam, bersama Cak yang
tak
kalah rajinnya dengan J, daku mencuci piring, bukan hobiku sebetulnya
tapi
karena si Ayrin kang cuci sudah pensiun sejak kami di George Lake
campground.
Tiada kerjaan lagi sehabis itu, memancingpun tak ada gunanya, ikannya
goblok
semua :-), daku merenung lagi di muka api unggun. Mengapa banyak orang
yang
pinter, memilih hobi mancing? :-) Modalku sih tidak/belum banyak,
paling
100-an $. Satu temanku, sampai membeli fishing boat, 5K$. Belum
pancingannya.
Kalau Anda ga tau, entu fishing lure, umpan kail bo'ongan, ada yang
puluhan $
satunya, lebih mahal dari ikannya :-). Gimana engga mau pinter tukang
mancing
di Amrik Utara ini. "Bang Jeha, hobi mana bisa dinilai dihargain
begitu,"
protes kang mancing di milis ini. Bejug, bener juga. Hobi mancing belum
seberapa, hobi ngumpulin 'g-string' lebih gaswats :-). Tapi ente semua
tentu
setuju, hobi kemping adalah salah satu yang relatif murah dan
menyehatkan,
belum oleh-olehnya dongengan yang mengasyikkan seperti ceritaku ini.
Melamunkan hobi kemping, hatiku cukup puas saat itu mengingat
si Bebeth,
rookie camper, sampai dengan hari terakhir, tidak pernah mengalami
pengalaman
traumatis yang bisa bikin kapok. Ya, sesekali kubertemu dengan manusia
yang
ogah kemping, pernah mencoba, tetapi disastrous karena atau planningnya
begok
atau diajak oleh bukan Bang Jeha :-). Rombongan pelamun di muka api
unggun
bersiap-siap pindah ke planetarium di malam terakhir itu. Saya berjalan
di
muka dan Cecilia membisikiku bahwa ia mau kencing dulu. Weleh weleh,
belum
jauh kuberpisah darinya, tahu-tahu ia menjerit, "northern light,
northern
light ... ," kaya anak kecil melihat tukang es krim lewat di depan
rumah :-).
Langsung kumenoleh ke langit bagian utara. Masyaalah, bener be'eng. Ada
10
lebih sentolop atau senter raksasa menyinari langit bagian utara. Kalau
Anda
pernah melihat lampu sorot di Jakarta Fair atau di pasar malam jenis
lainnya,
nah, kira-kira seperti itulah suasana langit di bagian utara ketika
itu, bak
pasar malam. Kucari si Bebeth dan ga taunya anak itu udah dari tadi
nungguin
'northern light' katanya :-). Sombong ye :-). Tapi memang ia disayang
banget
ama Oom Han, pertama kali kemping ke interior bisa melihat aurora
borealis
padahal temanku yang rumahnya di Georgian Bay dan puluhan tahun tinggal
disitu, setahun paling sekali dua kali ngeliat "cahaya utara" itu. Sama
sekali
tidak sesering yang Anda duga.
Itulah sebabnya, ketika keesokan paginya, hari terakhir kami
mendayung, air
di Georgian Bay setenang empang Marunda, saya sudah tidak merasa heran
lagi.
Terima kasih Oom Han, yang sudah memperlihatkan kasih kuasa-Mu kepada
kami
semua, 9 insan yang terkadang tak tahu diri dan sentimen kepada beaver
:-)
ciptaan-Mu juga. Terima kasih atas semua bimbingan-Mu di dalam "retret
khusus"
ini, sampai jumpa bulan depan di cagar Algonquin. Bai bai lam lekom.
Toronto, 14 Juli, 2001