Air yang jernih kehijau-hijauan, tak lama kemudian bercampur
dengan yang
kebiru-biruan, hijau turquoise, hijau lumut, biru pastel, biru
'kool-aid'
kata Clarisa, menerpa mata kami ketika mulai mendayung di Killarney
Lake.
Patut dicatat tanggalnya, 30 Juni 2005, sebagai tanggal bersejarah bagi
dua
keluarga yang baru pertama kalinya ikutan jeha outfitter canoeing ke
Killarney. Ya warga milis serviamTO di Toronto, keluarga Benny dan
Andre.
Lima bulan berselang, di Sabtu pagi subuh tanggal 29 Januari, Benny dan
saya
mencoba nasib untuk melakukan booking di cagar alam tersebut, yang
seperti
saya sering katakan, mustahil mendapatkannya. Dasar si Benso disayang
Oom
Han, baru kami berdua mencoba sekitar 10-15 menit, lewat email ia lalu
mengatakan ia berhasil masuk ke dalam network telepon sistim
reservation dan
yang lebih ajaib mendapatkan dua situs di Killarney interior.
Tidak ideal sebetulnya kedua situs itu karena yang pertama
adalah semalam
di Killarney Lake, malam kedua ketiga di OSA Lake dan malam keempat
harus
balik ke Killarney lagi. Permit situs kedua, keempat malamnya terus di
Killarney. Saya katakan ke Benny (dan belasan calon peserta lainnya)
untuk
jangan kuatir, nanti kita "akalin" pakai cara Melayu :-). Sukar sekali
untuk
kami berpisah sebab kapling di interior letaknya berjauhan, nyambit
batu juga
kaga nyampe biarin si Defi Samson yang melakukannya :-). Bagaimana
mengatur
masak-memasak maupun perlengkapan umum yang harus dipecah dua semuanya.
Apalagi kalau yang satu di OSA dan yang lain di Killarney Lake. Bila
Anda
belum hapal, satu campsite di interior hanya boleh ditiduri 9 orang
tidak
perduli umurnya berapa.
Kita tinggalkan suksesnya booking tersebut dan kita beralih ke
hari Rabu,
hari H alias tanggal yang dinanti-nantikan di kalender semua peserta,
29 Juni.
Setelah paginya saya membantu bojoku menaikkan kanu ke atas atap boil
dan
meload seluruh barang kemping kami ke dalam sang van, saya dijemput doi
sekitar jam 4:15 sore di cangkulan. Saya yakin akan pertama tiba di
tempat
rendezvous kami, pelataran parkir Highway 9 dengan Highway 400 yang
memang
sering saya jadikan tempat bertemu. Karena ada kemungkinan pasutri
Awi-Herli
yang cabut dari Waterloo datangnya terlambat, saya tetapkan jam 5 di Hw
9-400
dan jam 6-an sore di resto McD Molson Park tak jauh sebelum Barrie.
Weladalah
baru 5 menit saya nyampe di rendezvous I, jam 5:05, si Awi dengan
tersenyum
bangga parkir di sebelah mobilku :-). Kaga tahunya, belakangan, Bang
Roli yang
sudah menjadi pengangguran intelek sebab sudah berhenti dari
cangkulannya
untuk menunaikan dharma-bakti bagi tanah airnya :-), datang paling
telat,
di rendezvous II di McD jam 6:15-an. Singkat cerita, setelah
menginstruksikan
untuk makan di mobil sahaja, lantaran toh bojoku yang semart udah bikin
bacang, kami langsung cabut menuju kantor cagar alam Killarney.
Makan bacang disuapin sambil nyetir dilewati saja, demikian
juga kencing
di dalam botol sambir berboil ria :-). Pokoknya jam 9 lewat lima menit
kami
sampai di kantor yang sudah tutup. Oleh sang park ranger, kami
dipersilahkan
nginep wae sasukanya dhewek. Bo'ong, kami punya 3 reservation untuk car
camping di malam pertama tersebut. Pasang api unggun sebentaran,
abis-abisin
kayu yang saya bawa dari rumah. Nyamuk berjibunan disitu dan nyamuknya
ya
nyamuk hutan alias nyamuk Indo kaga ada apa-apanya dibandingkan
mareika.
Alhasil, tidak lama ngobrol, juga agar supaya kondisi para atlit, ceile
:-)
tetap fit, kami memutuskan untuk masuk ke peraduan sahaja, tidur
tentunya
dan kaga ngaduin apa-apa :-). Seperti saya katakan di atas, 8 peserta
yakni
keluarga Benso dan Andre baru akan pertama kalinya mendayung di
Killarney.
Bang Roli dan Bang Herry udah 2 kali sebelumnya, Awi juga dua kali,
Herli
pernah sekali dan Defi pun sekali.
Hari Kamis pagi, pagi-pagi sahaya sudah bangun, excited selalu
meski entah
sudah berapa kali ke Killarney. Targetku jam 8 pagi teng ada di depan
kantor
Killarney untuk mendaftar kemping semalam alias bayar-bayaran, plus
ngedaptar
15 orang masuk ke interior, istilah si bulek untuk ke dalam hutan.
Untung
sahaja saya dan Defi yang kedua pertama nongol sebab proses kami makan
1/2
jam-an. Kata Defi, kemungkinan si noni, Danielle namanya, baru jadi
pegawai.
Tapi boljug performance-nya, ngerti boil ada yang mesti bayar ekstra,
berapa
ongkos kemping di pesisir maupun di dalam hutan, serta bisa ngediktein
aturan maupun menanyakan warna tenda dan kanu-kanu kami. Kemungkinan si
eneng
jadi lama kurasa kepalanya poyeng membaca nama-nama yang tidak lazim
tiba
di benaknya, 'it doesn't compute' :-). Sebetulnya semua itu sudah
kusiapkan,
doi tinggal ngetik ke dalam kompinya, termasuk nomor pelat mobil kami
semua.
Jam 8:30 selesai, kami cabut menuju tempat persewaan kanu
untuk ambil 3 kunci
kanu. Ya, kanunya sih udah ngejogrok di pesisir George Lake, danau
pertama
atau awal pendayungan kami. Tetapi kami tetap mesti ke kantor Killarney
Outfitter tersebut sebab kami perlu mengambil PFD (personal floatation
device)
maupun paddle atau dayung. Di trip prep sudah kusiapkan tinggi dan
berat
setiap peserta (selain untuk nge-balance beban setiap canoe) sehingga
si
noni disitu, Suzanne namanya (kalu nama cewek kenape ikke apal ye :-)),
bisa
memberikan dua PFD untuk ukuran anak-anak sesuai dengan berat tubuh
mereka.
Setelah mendapatkan jatah 6 dayung dan 9 PFD, dikasih ekstra ama si
Suzanne
yang baik hatinya :-), saya dan Defi cabut. Eh eh eh ampe lupa
ketularan.
Si Defi Samson ikut saya karena doi, khas Defi, kelupaan lagi. Kali ini
mangkok dan sendok buat makan ia bawa, biasanya ia bermodal dari Tim
Hortons.
Tetapi ia lupa cangkir, sandal dan yang parah ia kaga inget untuk beli
bawa
bahan makanan yang menjadi tugasnya memasak, oatmeal. Akibatnya ia
membeli
makanan mewah, freeze dried food yang ada di pouch dan memakannya
tinggal
disedu air panas. Satu kantongnya buat dimakan berdua, 10 dollar aja.
Defi
memodali 5 kantong dan tentu ia tidak tega ngecharge kami 50-an dollar.
Di Kamis pagi itu, udaranya cerah. George Lake relatif tenang
dan asyik
pendayungannya. Sejam kemudian kami sudah tiba di portage pertama, dua
jam
kemudian di portage terakhir menuju Killarney Lake. Beruang yang tahun
lalu
nongol di portage trail tersebut, konon, tidak berani unjuk tampang
sama
sekali karena tahu Suzy tidak suka akan beruang, maksudnya bukan tak
suka
punya uang :-). Situs pertama yang kami samperi, nomor 20 that is,
menurut
para voorrijder atau yang kanunya nyampe duluan, cukup untuk 5 tenda
dan
disitulah kami jadinya membuka lahan memasang tenda kami. Usai memasang
tenda
kusiapkan tali untuk dipakai mengerek makanan. Dari pengalaman yang
lalu-lalu
pergi berombongan sekurawa untuk beberapa hari ga mungkin lach yauw
dikerek
dengan satu sistim tali alias perlu dua kerekan. Anda di milis
serviamTO
sudah mulai bisa menikmati foto-foto kami termasuk seperti apa tas-tas
makanan
yang sudah kami kerek ke awang-awang sedemikian sehingga beruang yang
kontet
kaga mungkin bisa meraihnya. Patut Anda ingat namun, tidak semua
beruang
bebal seperti kata si Arif SPAS ke beberapa prennya :-). Sekali prens
saya
bulekers Kanada bertualang ceritanya ke surga canoeist bernama Boundary
Water Canoeing Area di Minnesota (yang dipergiin Bang Jeha dalam rangka
HUT
Pernikahannya ke 26). Ketika mereka sudah mengerek makanan ke atas
pohon,
ujug-ujug datang beruang semart, mungkin ngerumpinya di uni Amrik sih
:-).
Sang beruang naik ke atas pohon, mengayunkan tangannya ke tali-temali
kerekan
makanan prenku. Ambrol amburadul semuanya dan si buleks
tunggang-langgang
berlarian pulang ke Toruntung, kapok kaga mau kemping ke Amrik lagi
:-).
Jam 5 pagi weker tubuhku sudah berbunyi di hari Jum'at
tersebut. Tak lama
pasutri Awi-Herli yang bertugas masak makanan pagi juga mulai
kedengaran
keluar dari peraduannya :-). Sebagian food pack sudah kuturunkan, yakni
yang
berisi tas makananku dengan kopi 3-in-1 Mocacinno yang terakhir kubeli
di
Carrefour Cempaka Putih. Menu pagi itu adalah pasta melayu alias bihun
kuah
dengan sosis Cino alias lapciong. Cocok sekhalei dan mereka juga semart
karena tahu kurang sehat bila minyaknya tidak ditirisi dihabisi dulu di
frying pan. Selesai bersantap semuanya, kami membereskan melipat tenda
karena
akan pindah ke campsite di OSA Lake.
Angin memang mulai bertiup sepanjang awal pendayungan tetapi
tak lama kami
memasuki daerah danau yang sempit dan tertutup alias tenang airnya.
Portage
100-an meter setelah kami melewati beaver dam, ecel wae. Namun, ketika
kutiba
dengan kanu yang ku-portage, rakyat mengadu melapor, "anginnya kencang
Oom"
kata mereka semua yang memang satu generasi bedanya dengan umurku, wong
gae
tak tau diri :-). Kuberjalan terus menuju pantai yang penuh dengan
batuan
kerikil dan benar saja, angin menerpa tubuhku yang sudah tidak
kerempeng lagi.
"Kenapa begini Oom?," ada yang bertanya, "kog tadi kaga berasa angin
kencang
waktu di Killarney?" Ya, memang OSA khas demikian anginnya sebab kalian
lihat
sendiri, angin datang dari sebelah utara dan di sisi kiri serta kanan
adalah
bukit sehingga membentuk 'wind tunnel'. Rakyat manggut menerima nasib
dan
dengan tawakal menunggu setengah jam, satu jam, sampai akhirnya kami
berunding. Kami putuskan pindah ke arah awal portage yang tidak
berangin untuk
makan siang disitu dan mengambil keputusan yang lebih bijaksana ketika
perut
sudah kenyang terisi. Alhasil, karena angin masih terus menderu, kami
membawa
cem-macem perbekalan dan tidak semua pendayung sudah memiliki SIM full
G atau
mahir banget mengemudikan kanu di ombak semeteran begitu, ketambahan
kami
membawa 4 anak-anak, keputusan balik adalah yang paling semart yang
kami
ambil. Baru di keesokan harinya kami menyadari selain itu keputusan
yang
bagus, juga nasib kami mujur sekhalei, tidak maksa untuk melawan
kekuatan
alam pergi terus ke campsite di OSA Lake.
Pendayungan baliknya tidak terlalu sukar sebab di Killarney
Lake angin tidak
separah di OSA. Lagipula situs kemping yang kami tuju adalah yang
pertama-tama
yang dicapai karena saya tahu lahannya luas cukup untuk menampung 5
tenda.
Di dalam keadaan angin yang cukup kencang kami semua mendirikan tenda
lagi
dan kali ini berdempetan supaya saling menghangatkan :-). The "three
stooges"
atau ketiga pelawak sinting serviamTO, Bang Roli Bang Herry dan Defi
Samson
merencanakan menonton adegan-adegan di tenda, teater I adalah tenda
yang
terletak di sebelahnya. Penghuninya tebak sendiri azha :-). Mereka
bertiga
memang kompak banget dan seperti saya pernah syer, ketika saya mengajak
prenku
secangkulan ke Killarney dan mereka berdangdut-ria, salah seorang
prenku
langsung meminta menjadi agen mereka setelah mendengar betapa asyik dan
merdunya lagu My Bonny didangdutin :-).
Perut Melayu memang kaga cocok diempanin bagel, itu roti
bunder kreasi wong
Yahudi. Jam 5 sore udah pada mulai keruyukan sehingga rakyat memelas
meminta
hidangan makan malam, nasi dengan dendeng balado a la nantulang Janti
untuk
segera disiapkan. Karena sayapun ikut laper, padahal angin masih
kencang, maka
kami dirikan suatu dapur darurat (yang belakangan jadi permanen karena
cukup
asyik dan ada pemandangannya juga) dikelilingi kanu dan terpal plastik.
Tak
lama nasi sepanci mateng perfecto karena terus ditilik apinya oleh
pengarang
Anda. Balado Janti sudah terkenal seToruntung dan kalau saja tidak
dijatahi mungkin akan terjadi perebutan dan pertikaian :-). Malam kedua
di interior
itu tentu kami lewati lagi dengan perumpian di muka api unggun,
merenung bagi
yang suka ngelamun, becanda ngebodor bagi yang suka humor. Karena
permit
kami cuma tinggal semalam untuk menginap di OSA Lake (masih dua malam
di
permit Killarney Lake), kami putuskan untuk esok pagi melakukan day
trip saja
kesana. Kalaupun angin kencang, karena kanu akan kami muati seoptimum
mungkin,
pendayung banyak cadangannya serta tiada perlengkapan yang kami perlu
bawa
alias risiko diperkecil, kami tetap akan mendayung ke OSA Lake. Kapan
lagi.
Hari ketiga di interior hari santai untukku. Meskipun weker
alamiah tetap
bunyi, kucuekkan sahaja, kesempatan untuk memeluki nyonya di suhu pagi
yang
dingin tanpa doi ngomel kepanasan seperti kalau kami pulkam ke Betawi
:-).
Tidak seperti biasanya, jam 7 lewat baru kubangun keluar dari dalam
tenda.
Hanya Bang Roli dan Bang Herry yang sudah bangun karena tugas mereka
memasak
hidangan pagi hari 'french toast'. Ceile memang meskipun tidak seasyik
french toast yang kunikmati setiap pagi di suatu cafe dekat Happy
Valley,
Hong Kong, ketika 3 bulan aku dikirim cangkulanku dulu untuk training.
Bedanya
french toast a la Roli tidak di-toast dulu tapi cuma dicelup ke dalam
telur
yang sudah dikocok lalu digoreng. Juga ia tidak memakai sirop tetapi
telurnya
ia masuki gula sebelumnya. Seperti Anda semua tahu, makanan kaya apa
juga
kalau dibawa kemping mah jadi sedap, begitu juga Medan toast Bang Roli.
:-)
Formasi siapa di kanu yang mana sudah kuatur setelah
konsultasi ke kenek
supirku waktu kami berdua nyetir ke Gros Morne, si tulang Benso :-).
Kami
hanya akan membawa 3 kanu, yang dua yang 18.5 feet sewaan Killarney
Outfitter
dan yang satu yang 17 feet dari Jeha Outfitter. Kanu pertama yang
kusetir
akan memuat 6 orang bersamaku. Defi Samson di haluan, Clarisa dan
Meilisa
empok ade di kursi ketiga, lalu Andre dan Kezia di depan mereka. Dengan
kekuatan dan berat optimum demikian, ombak semeter masih akan kami
hadapi.
Kanu satunya disetir Bang Herry, Bang Roli di haluan, "Queen Latifah"
Suzy
di bangku ketiga bersama bojoku dan si Keino di bagian depanan. (Pantes
entu
third seat ketika sang kanu kupakai belakangan, jadi doyot mo ambrol
:-)).
Satu kanu lagi disetir Benso dan Awi gantian dimana kedua nyonya Janti
dan
Herli jadi penumpang wae. Dengan kekuatan pendayung seperti di atas,
ombak
yang baru satu dua feet akan mampu dihadapi. Untunglah ketika akhirnya
kami
sampai di tepi OSA Lake yang jelita, ombaknya tidak seberapa, ecel
banget.
Ngedayung ceritanya kami untuk lalu parkir di salah satu pulau
pertama yang
ada campsitenya. Soalnya pulau satu lagi yang lebih indah
pemandangannya
dibezet bule tak tahu aturan :-) (maling teriak maling rek :-)). Ya,
ketika
kami kemarinnya sudah siap mau cabut balik dari portage trail ke OSA,
nongol
2 cewek dan satu cowok bule dari jurusan Killarney. Kata si cowok,
mereka
cuma punya permit di Killarney tapi mau coba ke OSA, masa sih kaga
dapet.
Saya katakan bahwa cuma ada 3 site disitu dan karena kami punya permit
tapi
urung, kemungkinan mereka bisa nginep. Bener azha, ketika kami mulai
mendekati
sang pulau, entu 3 bule ga tau diri bercokol disitu.
Tak lama mendarat, bojoku bersama anak-anak berenang ke
seberang ke suatu
pulau kecil mungil. Tak lama saya menyusulnya untuk sebentaran berenang
dengan gaya 'au naturel' mumpung kaga ada anak-anak yang nongton :-).
Soalnya
berenang bugilan paling aman adalah di Killarney dimana tidak akan ada
binatang yang bisa menggigit "benda pusaka" kita cowokers. Puas
berenang,
saya jemuran lagi di pantai bersama Bang Roli dan Bang Herry yang
sedang
mencari-cari obyek lukisan. Ketika sedang ketawa-ketiwi begitu,
mendadak
ujug-ujug nongol satu kanu dari arah Killarney, berisi cowok di buritan
dan
cewek di haluan berpakaian seragam 'park warden' alias yang punya
danau.
Karena sudah puluhan tahun di negeri ini, jantung saya sudah biasa
dalam
menghadapi pulisi atau satpam atau park rangers seperti itu, tidak lagi
kaya
mau copot ketika dulu suka disetop pulisi Melayu. Saya tahu mereka
maunya
apaan, jadi saya pergi ke dekat backpack saya, ambil kantong plastik
khusus
berisi peta dan cem-macem dokumen lainnya dimana salah satunya adalah
camping
permit Killarney Lake kami. Si cewek yang dengan ramah dan manis
menegur
kami :-). "Can we see your permit?" "Sure, here is mine." "How many of
you?"
"Seven in my party, 8 in my friend's permit for a total of 15. Most of
them
are over there," kataku menunjuk ke seberang. Sedikit kurang oke,
permit
satunya lagi ditinggal di Benso di dompetnya dan doi dah bilang, "I
left it
in my wallet at Killarney" padahal permitnya permit OSA Lake. Soalnya
ketika
ditanya saya bilang, iya, yang 8 orang kempingnya di pulau ini, saya
dan yang
lainnya lagi 'day trip'. Dasar bule lain dari Melayu, si noni cuma lalu
manggut, kaga ngotot untuk kami ambil sang permit maupun minta bukti
lainnya.
Ia hanya bertanya di situs nomor berapa kami di Killarney dan kujawab
nomor
23 dan dia manggut lagi sebab sudah dilihatnya ada tenda kami disitu.
Doi
kaga liat azha ada 5 tenda sebab kemungkinan ia tidak melihat tenda
Awi-Herli
yang dempetan dengan dengan tenda Roli Herry Defi. Pulisi Melayu yang
semart
tentu akan bertanya ke si Benny, elu kemping di OSA kog dompet elu
ketinggalan
di Killarney, kepriye :-). Selamatlah pokoknya kami dari razzia yang
seumur
hidup baru 2 kali kualami dan kedua-duanya terjadinya di OSA Lake.
Seperti saya syer di tayangan terdahulu, angin kencang di hari
Jum'at tanggal
1 Juli ketika kami mau ke OSA Lake sudah membawa hikmah. Kalau saja
kami jadi
kemping 15 Melayu di satu pulau padahal permitnya cuma siji wae,
kenalah
kami dirazzia dan bisa-bisa Bang Jeha pulang pake kolor doang :-) kaga
mampu bayar dendaannya. Tidak salah lagi, tanggal itu adalah tanggal
mujur
sebab merupakan HUT-nya Bang Herry, yang sebentar lagi boleh dipanggil
'Bro'
oleh Defi yang udah mo kawin :-). Bang Herry selain pinter ngebodor,
juga
mempunyai simpanan banyak filsafat hidup. Satu contoh diperagakannya
ketika
saya dan Cecilia lagi di "ruangan dapur" kami, lesehan dengan beberapa
warga.
Ia menunjukkan ke saya suatu daun kering dan ditanyanya, "Ini apaan
Bang?"
"Daun," kataku. "Apaan Pok?," katanya ke isteriku. "Daun oak," kata
Cecilia.
Lalu ia menanyai prennya yang sudah pada kongkalikong dan semuanya
menjawab
"jamur". Kata Bang Herry lagi amat bijak :-), "Ini jamur Bang, disini
Kanada
dimana suara terbanyak menentukan kebenaran" :-). Terpaksalah saya yang
memang dungu bin bebal manggut :-).
Makan siang yang cuma fajita abon plus banyak ngedayung dan
berenang di hari
itu membuat hidangan nasi uduk bojoku ditunggu-tunggu seluruh rakyat.
Karena
ia cabut lebih awal, ketika kami tiba nasi sudah mateng, demikian juga
"paraphernalia"nya seperti telor dadar, dendeng manis dan teri asinnya.
Di dalam waktu sekejap nasi sepanci sudah ludas tandas. Fast forward
acara
api unggun (yang setiap malam) dan tidur. Dipercepat makan pagi
giliranku
memasak, indomie plus pepperoni, disambung dengan hiking trip ke suatu
perbukitan tak terlalu jauh dari campsite. Tibalah kita di acara makan
malam
terakhir, pasta berbumbu tomat dan keju bermuatan pepperoni juga. Pasta
punya
penggemar tersendiri terutama bagi anak-anak. Itupun ludas tandas
sepanci.
Karena kami makan malamnya terlalu awal, jam 5 sore kira-kira,
menjelang
malam sudah ada yang kelaparan lagi kayanya. Melihat tumpukan bara di
atas
api unggun, menengok ada 'grill' atau panggangan kepunyaan campsite,
mengenang
roti bakar Eddy di sebelah gedung PU di Kebayoran Baru, saya jadi punya
ide.
Kuambil semua roti yang masih tersisa, ex French toast, bagel, fajita,
dan
kubawa ke panggangan itu untuk mulai berjualan roti bakar. Weladalah
rek
lakunya, dalam sekejap semua jenis roti bakar Edu(ard) itu juga ludas
tandas.
Begitulah rakusnya manusia kalau lagi kemping :-).
Bosen digigitin nyamuk terus, yang memang di malam terakhir
itu kaga sopan
banget, saya mengusulkan kami naik kanu ke tengah danau dan mengeceng
bintang
dari atas kanu di permukaan air. Cukup jumlah sintingers untuk memadati
dua
kanu 18.5 feet kami. Alhasil kami sempat melihat cem-macem benda langit
di planetarium alamiah itu, dari mulai rasi Cassiopeia ke Ursa Major
dan Ursa
Minor, dari mulai Cygnus ke Lyra ke Scorpius, Bootes dan Hercules, dari
melihat bintang ke meteor ke satelit ke planit Jupiter. Pokoknya rakyat
puas
dah sudah bisa mengalami kesempatan seumur hidup sekali, berkanu
bergandengan
merasakan betapa kecilnya kita khalik di dunia ketika melihat bintang
gemintang di galaksi Bima Sakti.
Tiada kejadian yang aneh-aneh lagi di malam terakhir itu,
entah apa yang
terjadi di setiap tenda, itu mah rahasia alam dong :-). Yang penting,
semua
warga segar bugar ketika bangun keesokan harinya dan untuk yang belum
pernah,
makan pagi 'freeze dried food', meal ready to eat kata serdadu Amrik
yang
begitulah jatahnya sehari-hari di medan perang. Kurang enak rek, sebab
selain
mahal, selera bumbu Thai-nya berlainan dengan lidah kita. Masih lebih
enak
kalau menunya masakan bulek seperti suka saya beli sesekali kalau kami
tidak
mau membawa makanan terlalu berat karena perginya cuma berdua sahaja.
Selesai
makan pagi dan membongkar tenda, pendayungan terakhir di hari Senin
tersebut
berjalan lancar. Kanu terdepan pada umumnya Bang Roli dan Herry yang
mungkin
merem juga nyampe mereka ke Killarney p.p. Wong pelukis, tentu semuanya
sudah mereka hapal di benaknya dan lukisan Roli eks Killarney menurut
saya
sih tidak kalah dari Basuki Abdullah, lukisan Herry menyamai Affandi
:-).
Trip pertama di tahun ini, 5 hari 4 malam memang cukup melelahkan
karena
kami belum terbiasa. Jelas terlihat di pendayungan dari George Lake ke
parkiran mobil. Kezia dan Clarisa sudah tidak mau lagi mendayung,
sampai
saya mengeluarkan upah berupa Skeetle (merek permen). Teringat jadinya
akan
trip terakhir kami ke Killarney West, ketika Monica dan Roswita yang
sudah
loyo di pendayungan etappe terakhir mendengar perkataan ajaib "pulang"
dan
dengan semangat mendayung kanu lagi sehingga si Bryan tinggal menyetir
doang.
Begitulah asyiknya kemping, semua-semua yang kita rasakan sebagai rutin
sehari-harinya, menjadi bernilai kembali, terutama yang namanya rumah
:-).
Sampai dongengan ke Collins Inlet sebulan lagi, lam lekom bai bai.
Killarney Park, 4 Juli, 2005